Rabu, 05 Oktober 2011

TASAWUF DAN PSIKOLOGI MODERN

Makalah Perbandingan Mazhab

TASAWUF DAN PSIKOLOGI MODERN

PENDAHULUAN

Istilah “sufi” atau “tasawuf” sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah tentu sangat dikenal di kalangan kita, bukan saja pada kalangan masyarakat akademik tetapi juga masyarakat awam. Istilah ini sangat diagungkan dan selalu diidentikkan dengan kewalian, kezuhudan dan kesucian jiwa.

Pada masa-masa awal perkembangan tasawuf dan berdirinya berbagai macam tarekat membuat dunia islam semakin beragam sehingga perkembangannya sangat pesat dan dipelajari oleh semua kalangan umat islam yang berbondong-bondong menuju ilmu tasawuf . dilain pihak, perkembangan ilmu tasawuf secara besar-besaran berakibat negatif terhadap kemajuan islam sendiri. Ilmu pengetahuan mengalami kemandegan, tidak ada lagi yang mementingkan kehidupan dunia sementara umat telah terlena oleh ajaran-ajaran tasawuf , maka tidak mengherankan banyak pemikir islam yang menyebutkan kemunduran islam disebabkan oleh ilmu tasawuf.

Sedangkan pengertian modern yang dimaksud adalah seseorang yang harus pada masa dan zamannya dari segi pemikiran,sikap,nilai-nilai,perilaku dan pandangan hidup dan harus ikut berkecimpung dan menerjunkan diri dalam aktivitas masyarakat. Bergerak,melangkah dan berpikir seperti mereka.Ia tidak boleh hidup didalam keterasingan dengan kenangan,pemikiran,gambaran,adat kebiasaan,nilai-nilai ,syiar-syiar,keyakinan dan kepercayaan dimasa lampau yang boleh jadi sesuai untuk suatu ketika dimasa dahulu dan sudah tidak sesuai dimasa kini.

Jadi, intisari pengertian masyarakat modern adalah masyarakat yang menjalani sesuai dengan tuntutan manusia yang hidup dimasa kini,bukan dengan manusia yang sudah lama meninggal dunia.Hidup sesuai dengan situasi dan kndisi semasa ,bukan dengan kenangan dimasa silam.

Setelah umat menyadari kemunduran islam yang salah satunya disebabkan oleh ajaran-ajaran tasawuf yang lebih mementingkan akhirat maka umatpun kembali mengejar dunia dan akhirnya lupa juga terhadap akhirat yang dalam hal ini tasawuf mengalami mati suri dan berakibat gersangnya spiritual dalam diri manusia modern.

Pada masa modern sekarang ini, gejala tasawuf ternyata kembali lagi, bahkan cenderung meningkat. Ada beberapa sebab yang ikut berperan serta dalam menghidupkan kembali tasawuf yang telah beberapa abad mengalami mati suri.

Tasawuf (Irfan) merupakan satu hal yang memiliki urgensi di tengah-tengah masyarakat modern. Tasawuf pada kenyataannya juga dapat menjadi ‘solusi’ bagi kegersangan hidup di dunia modern, sebagian masyarakat modern berpendapat bahwa hal yang dapat menentramkan jiwa setiap individu adalah spiritualitas, ketika beragam masalah kehidupan dari berbagai bidang muncul, tasawuf mampu menjadi primadona sebagai jalan keluar pada saat yang sama, karena tasawuf memiliki penawaran yang menarik bagi sebagian peminatnya.

Tasawuf mampu menghadirkan suasana yang damai dan nyaman bagi kebanyakan orang, di kala materi dan kekuasaan tidak dapat lagi berdiri kokoh dan menjulang untuk memuaskan hasrat keduniawian, tasawuf mampu menggantikan kehausan batin kaum manusia. Dan hal inilah yang coba kami urai menjadi sebuah pengetahuan sederhana. Semoga bermanfaat bagi para pembacanya.

PEMBAHASAN

A. Sejarah Masyarakat Modern

Masyarakat moderen dewasa ini tumbuh dari pengembangan kebudayaan yunani purba. Kebudayaan yunani memang punya dasar pikiran yang rasional dan Eropa menjadi canggih dan melahirkan kebudayaan barat yang modern. Kebudayaan Yunani purba yang puncaknya ajaran filsapat rasional menyebar ketimur tengah lantaran pengembangan dan penaklukan raja Alexander yang agung. Pasukan Yunani ini mendarat di Mesir dan mendirikan kota pelabuhan Alexandria, kemudian terus ketimur hingga persia. Tujuan penaklukan Alexander adalah untuk meluaskan pengaruh budaya yunani yang berwatak dinamis itu dan memadukannya dengan kebudayaan timur(Persia, Mesopotamia, Mesir, Syria).

Agama kristen yang kemudian datang dan menyebar ke Eropa akhirnya memandang filsapat yunani sebagai ajaran orang kafir, maka para filusup akhirnya dikejar-kejar dan diusir dari bumi eropa dan yunani khususnya. Mereka melarikan diri ke timur tengah dan mempertahankan ajaran mereka di kantong-kantong negri Mesir, Syria, Mesopotamia, Persia dan sebagainya.

Kebudayaan Yunani purba memang sangat unik karena dari sinilah muncul pemikiran filsapat yang rasional dan ilmiyah. Maka wajar apabila kebudayaan Yunani purba ini dipandang sebagai cikal bakal atau jadi tempat awal tumbuhnya budaya progresif yang berakar pada tipe pemikiran yang rasional dan ilmiyah. Maka dalam perkembangan filsafat dan kebudayaan, masa Yunani purba ini umumnya dinamakan zaman klasik yang menjadi embrio dari masyarakat moderen dewasa ini.

Masyarakat dan budaya modern yang berkembang dari masyarakat barat itu bertumpu pada dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi, yang keduanya berinduk pada filsafat.

Untuk mencapai masyarakat yang modern kita wajib memahami keadaan zaman yang sedang kita tempuh saat ini secara terperinci,benar dan mendalam . Karna kalau kita tidak mengerti dan tidak mengenal wajah zaman sekarang dengan mendalam maka akan mengakibatkan terjadinya perkara yang sangat buruk ,seperti seorang dokter yang memberikan obat kepada pasiennya namun dia tidak melakukan pemeriksaan dan diaknosis dengan benar pada pasiennya terlebih dahulu,bias jadi obat tersebut menambah buruk keadaan pasien atau juga menyebabkan kematian pasien.

Seorang mukmin yang kuat dituntut untuk hidup sesuai dengan keperluan zaman dan senantiasa mempersiapkan diri dengan bekal yang cukup untuk menyambut masa depan. Hal ini dimaksudkan supaya kehidupan seorang mukmin senantiasa sempurna dan meningkat baik pada masa ini ataupun masa yang akan datang. Dengan kata lain ,seorang mukmin wajib memahami dan mengenali keadaan dan kondisi yang sedang berkembang sehingga dia mampu menyambut dan mengisi kekosongan yang ada.

Mengenal ,mengerti ,dan memahami perkembangan zaman adalah merupakan tuntutan yang dimestikan dan kadangkala menjadi kewajiban,jika hal itu merupakan sesuatu cara untuk melakukan kebajikan-kebajikan yang telah ditetapka agama, sesuai dengan pengertian kaidah usul fiqh yang termasyhur yaitu apabila suatu kewajiban yang telah ditetapkan agama tidak dapat dilaksanakan melainkan dengan suatu perkara lain maka perkara tersebut hukumnya wajib.

Sebagai salah satu contoh ,seorang pendidik,dan faqih tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dan sampai kepada tujuan yang di maksudkan dengan sempurna jika tidak mengenali,memahami dan mengerti kondisi zamannya sehingga dapat berkomunikasi dengan umat mengikuti bahasa zamannya. Firman Allah SWT.yang artinya Kami tidak mengutus seorang Rasulpun melainkan dengan bahasa kaumnya,supaya ia dapat memberikan penjelasan dengan terang kepada mereka (QS:Ibrahim :4)

Dari ayat tersebut diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa jika seorang rasul yang diutus membawa ajaran Allah kepada manusia diwajibkan untuk menyampaikannya mengikuti yang dimengerti kaumnya ,demikian juga para pendidik ,pendakwah,dan pembimbing umat wajib menyampaikan ajaran agama Allah dengan bahasa yang dimengerti oleh pendengarnya.Jika tidak maka umat tidak boleh dipersalahkan karna tidak mengindahkan ajaran dan seruan mereka itu.

Pada zaman moderen sekarang ini kita mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dari masa-masa yang terdahulu. Abad ini adalah abad sains dan teknologi; kebebasan, hak-hak manusia sejagad dan rasa kemerdekaan bangsa-bangsa di dunia. Pada zaman ini kebendaan duniawi dan manfaat karir menguasai hidup manusia. Orang-orang yang hidup di zaman modern cendrung mengikuti ajakan dan dorongan hawa nafsu. Pencemaran berlaku disetiap sudut kehidupan manusia. Goncangan jiwa, tekanan batin dan perpecahan melanda hampir seluruh manusia. (Qardhawi, 1996: 109 )

B. Krisis spiritual masyarakat modern

Di era modern ini, beragam macam krisis menimpa dan menjadi bagian dalam kehidupan manusia, mulai dari krisis sosial, agama, struktural, kultur, politik bahkan sampai pada krisis spiritual, yang pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa semuanya bermuara pada persoalan makna kehidupan bagi manusia. Dalam hal modernitas, yang di dalamnya terdapat kemajuan teknologi dan perkembangan industralisasi mengakibatkan manusia kehilangan orientasi, visi dan misi dalam hidupnya sendiri. Ketika kekayaan materi yang melimpah daan kian menumpuk, namun pada saat yang sama jiwa memiliki ruang kosong dan hampa. Yang menjadi prioritas bukan lagi ketenangan batin namun pemuasan hasrat pemenuhan materi-materi duniawi, seperti bekerja siang malam, tanpa mengenal waktu demi menggapai materi, mengeruk keuntungan-keuntungan duniawi yang tidak berujung

Penolakan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu fenomena yang menonjol di masa sekarang, yang oleh sebagian ahli di sebut sebagai msa pasca-modernisme. Masa ini ditandai oleh kerisis yang mendalam pada berbagai aspek kehidupan. Orang-orang, terutama di wilayah urban dan sub urban, merasakan bahwa kehidupan di sekitar mereka semakin keras, sulit dan penuh dengan kriminalitas. Urbanisasi besar-besaran membuat kehidupan diwilayah-wilayah ini seolah-olah telah terlepas dari kontrol. Pada saat yang sama masyarakat telah diberondongdan ditaklukkan oleh media masa., dunia menjadi kampung global (global village)

Semula banyak orang terpukau dengan modernisasi, mereka menyangka bahwa dengan modernisasi itu serta merta akan membawa kesejahteraan. Mereka lupa bahwa dibalik modernisasi yang serba gemerlap memukau itu ada gejalayang dinamakan the agonymodernation, yaitu azab sengsara karena modernisasi. Gejalanya dapat kita saksikan seperti meningkatnya angka-angka kriminalitas yang disertai dengan tindak kekerasan, perkosaan, judi, penyalah gunaan obat terlarang, kenakalan remaja, prostitusi, bunuh diri, gangguan jiwa dan lain sebagainya.

Dikemukakan oleh para ahli bahwa gejala psikososial diatas disebabkan karena semakin modern suatu masyarakat semakin bertambah intensitas dan eksistensitas dari berbagai disorganisasi dan disintegrasi sosial dimasyarakat itu

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai tulang punggung modernisasi dan industrialisasi, taanpa sadar telah terjadi penyalah gunaan sehingga mengakibatkan dampak negatif berupa kerusakan lingkungan hidup. Kerusakan lingkungan hidup yang dimaksud disini tidak semata-mata lingkungan hidup dalam arti fisik yaitu polusi dan kerusakan alam lainnya, tetapi lingkungan dalam arti tata-nilai kehidupan.

Dalam era modernisasi dewasa ini teknologi dibidang informasi juga maju dengan cepatnya sehingga tidak ada lagi batas ruang dan waktu antar negara satu dengan yang lainnya. Demikian pula teknologi dalam bidang transformasi maju dengan semakin canggih, dengan mobilitas manusia dari suatu tempat ketempat lainnya, dari negara satu kenegara lainnya semakin cepat.

Pengalaman-pengalaman dinegara-negara maju telah membuktikan bahwa banyak warga masyarakatnya yang telah kehilangan identitas diri, mereka jadi bingung karena proses modrnisasi yang mereka jalankan telah menimbulkan ketidak pastian pundamental dibidang hukum, moral, norma, etike, dan nilai tata kehidupan.

Karena itu, jurgen habermas, filosop dan ahli filsapat sosial dari jerman, mengamati bahwa ekspansi dan globalisasi kapitalisme yang merupakan ujung tombak modernisasi barat saat ini, tidak hanya mendorong kehidupan ini materalistik dan hedonistik, tetapi juga mengakibatkan terjadinya intrusi masif. Kontrol-kontrol administrasif rasional kedalam banyak sektor kehidupan, akibatnya rasa terancam dan kecemasan muncul dikalangan masyarakat. Kegiatan yang selama ini dilakukan secara spontan dan lebih diatur adat kebiasaan, kini harus tunduk dibawah pengturan-pengaturan yang terinci dan kompleks.

Demikianlah modernisme dipandang gagal memberikn kehidupan yang lebih bermakna kepada manusia, karena itu tidak heran jika kemudian orang kembali kepada agama (baca:Tasawuf) yang memang berfungsi antara lain untuk memberikan makna dan tujuan hidup. Modernisme dan modernisasi ternyata telah gagal menyingkirkan agama dari kehidupan masyarakat. Dalam kaitannya denagan modernisasi, yang terjadi hanyalah munculnya tantangan-tantangan baru terhadap agama, tetapi sama sekali tidak melumpuhkannya.

C. Kebangkitan tasawuf

Sayyid husein nashr dalam survey belum lama ini menyimpulkan, dalam beberapa dekade terakhir sufisme alami kebangkitan di dunia muslim seperti Syria, Iran, Turki, Pakistan sampai Asia tenggara. Terdapat peningkatan signipikan dalam minat terhadap sufisme terutama dikalangan pendidik. Menurutnya, sebagian kebangkitan itu berkaitan dengan meningkatnya kegiatan-kegiatan tarekat-tarekat sufi, semacam tarekat Syadzaliyah sebagai mana yang pernah diteliti oleh Radjasa Mu’tasim dan Munirr Mulkhan di kudus, adalah tarekat yang sangat aktif. Lebih dari itu, juga usaha-usaha serius untuk menggali kembali pemikiran tokoh-tokoh besar sufi khususnya Ibnu arabi dan mengaktualkannya guna menjawab tanntngan-tantangan kemanusiaan dan kerohaniaan dimasa modern.

Di indonesia sendiri dalam beberapa tahun terakhir, gejala munculnya tasawuf kepanggung kehidupan keagamaan juga terlihat lebih jelas. Meskipun penelitian ilmiyah tentang hal ini belum pernah dilakukan, tetapi media masa sering melaporkan misalnya literatur-literatur tasawuf sebagaimana dilaporkan oleh Azumardi azra termasuk diantara buku-buku terlaris di pasaran. Kursus-kursus tasawuf yang diselenggarakan lembaga semacam LSAF (Lembaga Studi Agama dan filsapat) dan paramadina menarik minat cukup tinggi, terutama bagi kaum kota terdidik secara modern. Kehidupan para sufistik inipun merambah kedunia penyairan, terdapat seniman atau penyair, yang akhir-akhir ini secara tidak malu-malu turut memproklamirkan diri sebagai “penyair sufistik”. sebut cak Nun (sebutan yang populer untuk Emha Ainun Najib) dan gus Mus(sebutan yang sering kita dengan bagi Mustapa Bisyri).

Kebangkitan tasawuf umumnya dan tarekat khususnya di masa belakangan ini, telah menimbulkan banyak pertanyaan khususnya di kalangan pengkaji sosiologi agama dan modernisasi. Mengapa dalam situasi dimana kemajuan ilmu dan teknologi yang kian marak, justru semakn banyak orang tertarik pada tasawuf, seperti munculnya gerakan mujahadah di berbagai tempat? Apakah ini hanya sekedar gejala ekapisme dalam dunia modern? Kesimpulan singkat yang di berikan oleh Naisbitt dan Aburdene dalam mengatrends 2000 agaknya menarik untuk di catat. Menurut mereka, ilmu pengetahuan dan teknologi yang melaju cepat di era modern sekarang ini tidak memberikan makna tentang kehidupan.

D. Masa depan Tasawuf (neo sufisme)

Agama islam sebagai agama pertengahan dari dua agama samawi, Yahudi lebih menekankan kepada asfek legalistik yang berorientasi kepada kemasyarakatan dan nasrani lebih menekankan pada aspek spiritualistik seperti pengalaman rohani sehingga membuat agama itu terkesan lembut (kasih) maka islam diantara keduanya. Dan orang-orang muslim dituntut memadukan kedua unsur tersebut. Ia harus merasakan ketentuan hukum itu sebagai sesuatu yang menjadi komitmen spiritualnya (Nurcholish, 1992:260). Dengan penggabungan dunia akhirat yang tidak hanya mementingkan dunia tetapi juga sisi ketenangan bathin sehingga bisa dipastikan kalau manusia moderen akan menjadikan Tasawuf moderen(neo sufisme) sebagai alternatip utama. Dan menurut fazlurrahman ahlul hadislah yang berperan penting dalam kristalisasi kebangkitan neo-sufisme (Amin sukur,2001:39).

Neo sufisme lebih menekankan perlunya pelibatan diri dalam masyarakat secara lebih kuat dari pada sufisme lama. Beberapa perubahan yang dilakukan para tokoh neosufisme terhadap tasawuf klasik diantaranya mengenai pemaknaan ulang tentang arti kata zuhud yang diartikan meninggalkan hal-hal yang haram menuntut seseorang untuk mencari penghasilan secara tulus lewat kerja keras, meninggalkan suap (yang menurut Rasullullah menimbulkan laknat Allah kepada si penerima dan si pemberi), menghindari hal-hal yang merugikan orang lain, dan menciptakan pekerjaan yang mempunyai nilai sosial yang tinggi. Zuhud akan melahirkan sikap menahan diri dan memanfaatkan harta untuk hal-hal yang produktif. Pembaharuan asfek ontologis bertalian dengan hakikat tasawuf (Jujun S. Soria soemantri, 1986:141).

Betulkah berbagai sifat yang tercermin dalam zuhud mampu membebaskan orang dari problema kehidupan? Beberapa penelitian ilmiah, tampaknya mengiyakan pertanyaan ini. R. Pieris dalam Studies in the Sosiologi of Defelopment, misalnya menyebutkan bahwa di India Orang Sikh berhasil merebut posisi ekonomis yang menguntungkan, karena ajaran Sikh menggabungkan kerja keras dan kesederhanaan. Di Jawa misalnya, menurut hasil penelitian Geetz menyebutkan bahwa kelompok santri relatif lebih kaya daripada kelompok abangan. Hal ini di sebabkan oleh sikap kelompok santri yang gemi : berpakaian sederhana, menghindari upacara mewah , dan bekerja keras.

E. Psikologi Agama dan masyarakat modern

Psikologi masyarakat modern semakin lama semakin berbeda, masyarakat modern lebih mementingkan kebahagiaan secara umum. Masyarakat modern menganggap dengan mengumpulkan harta akan membuat bahagia, ketika semua itu terbukti gagal maka masyarakat modern pada akhirnya membutuhkan ketenangan bathin yang dalam hal ini tasawuf modern. Tetapi tasawuf sebenarnya berbeda dengan psikologi.

Yang jelas tasawuf bukan hanya sebagai gejala psikologis tetapi terdapat muatan keagamaan yang sulit dibuktikan melalui pendekatan empiris. Namun demikian psikologis agama pada batas-batas tertentu telah memberikan sumbangan yang berharga terhadap pemahaman sikap keagamaan tokoh-tokoh mistik. Paling tidak dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang dijumpai kenyataan tentang adanya pengidap gangguan jiwa yang memanfaatkan agama sebagai pengabsah mereka.

Pada jantung religi ini, terdapat sebuah tradisi yang berusia ribuan tahun yaitu tasawuf (sufisme) yang merupakan aspek mistik islam. Karena menurut Dr. Jalaluddin (1997:117), sufisme atau disebut juga mistisisme merupakan salah satu sisi dan pokok bahasan dalam psikologi agama. Sebutan sifisme ini tidak dikenal dalam agama-agama lain, melainkan khusus disebut mistisisme Islam. Sebagaimana halnya mistisisme , tasawuf atau sufisme mempunyai tujuan memperoleh langsung dan disadari dengan Tuhan., sehingga disadari benar bahwa seseorang berada dihadirat Tuhan

F. KORELASI AGAMA, TASAWUF DAN PSIKOLOGI MODERN

Sesungguhnya agama dan ajaran-ajarannya adalah elemen-elemen bafi pembangunan dan pembinaan pradaban dan wawasan intelektual suatu bangsa atau kaum.Nilai-nilai agamalah yang sangat menentukan dan menggariskan arah perjalanan bangsa tersebut dari segi pemikiran,wawasan,cara ,dan perasaan dalam jiwa mereka. Agamalah yang mempengaruhi pandangan dan falsafah asasi mereka tentang arti,tujuan,pandangan hidup,dan hakekat kehidupan dunia ini.Agamalah yang menjadi sumber ilham dan wawasan mereka untuk menjawab semua persoalan –persoalan abadi yang selalu mengelilingi akal pikiran manusia sepanjang hayat yaitu : Siapakah saya sebenarnya?, Darimana saya datang ? Kemana nanti saya akan pergi ?,Mengapa saya dihidupkan ?,Dan mengapa nanti saya mesti mati ?

Agamalah yang telah menanamkan tujuan dan pandangan hidup pada manusia.Menjadikan hidup dan kehidupan ini mempunyai makna arti dan semangat .Menghubungkan dunia fana manusia dengan wujud azali yang kekal,yaitu Allah SWT. Dengan alam akhirat yang abadi yang merupakan gamgaran sebenarnya tentang kehidupan manusia jika mereka menyadarinya.

Islam khususnya menanamkan pengaruh dan dasar yang sangat kuat ,mendalam ,dan dominan dalam pembentukan dan pembangunan pradaban dan wawasan intelektual melalui kaedah-kaedah iman,syiar-syiar ibadah,nilai-nilai murni akhlak,hukum-hukum syara’, adap sopan-santun dalam pergaulan dan hubungan sosial serta kepahaman dari kaedah-kaedah teoritikal dan konsep-konsepnya.

Islam adalah agama yang menyerap masuk kedalam setiap kehidupan individu,keluarga,dan masyarakat. Memberikan pengaruh positif bagi pengembangan wawasan intelektual ,perasaan hati dan kehendak jiwa.memberikan panduan dan arah pada akal ,hati sanubari ,dan tingkah laku.Ia membentuk seluruh kehidupan ini menjadi sesuatu yang sangat unik dan istimewa .keistimewaan itu dapat disaksikan dari segi ajaran-ajarannya yang bersumber dari Rabb yang maha pencipta ,dari sifat-sifat mulia kemanusiaan yang dilahirkan oleh para penganutnya yang memegang teguh prisip-prisip asas akhlaq dan moral,selain memiliki keseimbangan kepahaman dan gerak kerja yang pantas dan positf.

Seorang muslim apabila hendak makan , mka ia menyebut asma Allah SWT.setelah kenyang ia bersyukur kepadaNya.Jika hendak tidur ia berzikir mengingat keagungannya ,setelah bangun iapun memuja dan memujiNya kembali.Apabila mendapat suatu kenikmatan maka ia menyebut :” Segala puja dan puji bagi Allah SWT”,dan jika mendapatkan musibah dia berserah diri kepadaNya serta bersabar serta berkata :” kita ini milik Allah dan kepadaNya kami akan dikembalikan “.(QS.Al-Baqarah 156)

Pendek kata ,seluruh kehidupan muslim itu dihiasi dan diliputi oleh zikrullah,pujaan dan pujian atas keagunganNya.Allah SWT senantiasa hadir dalam hati sanubari mereka dan sebutannya selalu ada pada lidah-lidah mereka.

Seseorang yang pernah hidup dikalangan masyarakat muslim tidak dapat memungkiri pengaruh islam dan ajarannya dalam pembentukan wawasan pemikirannya sekuat apapun komitmennya terhadap agama.Karna bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat islam penuh mengandung ajaran agama.Istilah-istilah dan tamsilan yang beredar dikalangan mereka membawa pesan dan nilai-nilai agama.Pemikiran,perasaan dan tingkah laku mereka dipengaruhi dengan kuat oleh panduan-panduan oerintah agama.bPerkara ini juga diakui hatta oleh kalangan atheis dan oportunis yang pernah hadir sepanjang sejarah perjalanan hidup umat meskipin bilangan mereka tidak cukup banyak.Islam berperan aktif dalam membentuk wawasan pemikiran dan intelektual mereka.Pendek kata dengan semua sisi tasawuf ,nilai-nilai murni,pemikiran, perasaan, dan adab sopan-santunnya merupakan satu pusat kekuatan yang dapat mempengaruhi dan membentuk pemikiran, perasaan, kehendak, dan tingkah laku seseorang dari arah luar dan dalam, baik secara disadari ataupun tidak.

Telah banyak orang yang hidup disekitar masyarakat islam dalam jangka waktu lama ataupun singkat mengakui hakekat ini .Kesimpulan yang mereka petik bahwa agama merupakan faktor utama pembentukan intelektual pemikiran ,cara hidup,dan tingkah laku sebuah masyarakat hatta bagi golongan yang menjadikan agama hanya sebagai hiasan bibir semata.

Keadaan yang seperti ini yang kemudian akan membuat seseorang akan lebih tenang menjalani hidupnya dan inilh yang sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat modern sebagimana keadaan kejiwaan masyarakat modern (psikologi modern) yang mementingkan kebahagiaan tanpa batas, jika diaplikasikan maka bisa disamakan dengan ajaran tasawuf modern. Maka tidak heran masyarakat kota berbondong-bondong melakukan Yoga sebagai alternatif penenangan jiwa

PENUTUP

Dengan maraknya praktek-praktek penenanagn diri pada masyarakat modern disaat ilmu pengetahuan harus selalu dituntut menjelaskan sesuatu dengan jelas. Di sisi lain penjelasan-penjelasan yang tidak konsisten membuat masyarakat modern mengalami kebosanan-kebosanan yang sangat mendalam. Sementara kebahagiaan yang di harapkan dengan bentuk materi tak selalu memberikan kebahagiaan yng hakiki. Pada akhirnya masyarakat modern merasa jenuh juga dengan seperti ini dan akhirnya kembali pada praktek ritual keagamaan pada masa dulu yang dalam dunia islam disebut tasawuf.

Sedikit demi sedikit akhirnya praktek penenangan hati menjadi solusi yang cukup bisa di handalkan. Para penikmat tasawuf telah semakin berkembang dan banyak menyedot perhatian dunia, walaupun praktek-praktek dalam dunia tasawuf saat ini sedikit berbeda dengan zaman sebelumnya. Sementara hal serupa juga terjadi dikalangan yang keluar dari islam, ajaran penenangan Budha dan yoga menjadi penyaing utama tasawuf saat ini sekaligus membuat buram antara ajaran tasawuf dan budha tersebut. Akhirnya apapun ajaran itu semoga membuat dunia semakin baik dengan perubahan jiwa yang dilakukan para pencari kebahagian sejati.

Wallahu a’lam.....

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qardhawi, yusuf. Wawasan Islam : Antara Keaslian dan Kemodenan. Penj Ahmad Nuryadi, selangor darul ahsan Malaysia.Thinkers library,1996

Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Rajawali Press, 1997

Madjid, Nurcholish. Islam Agama Peradaban, Paramadina: Jakarta, 1975.

Soeriasomantri & S, joejoen. ilmu dalam perspektif moral, sosial dan politik, Jakarta: Gramedia, 1984.

Syukur, Amin. Tasawuf krisis, Semarang: Pustaka pelajar,2001

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates